Guru sebagai tonggak utama penggerak upaya mencerdaskan kehidupan bangsa dituntut untuk memiliki kemampuan mendorong siswa agar memiliki keterampilan berpikir komputasi, dan memiliki kemampuan untuk memanfaatkan alat teknologi yang berada di tangan mereka. Melalui Training ini kita mau mencoba salah satu dari banyak aplikasi pembelajaran yang berbasis teknologi, yang memberikan kemudahan dalam mentransfer ilmu kepada peserta didik.
Guru Informatika di UPT SMP Negeri 4 Sabbang, Kebupaten Luwu Utara, Propinsi Sulawesi Selatan
Kamis, 09 Januari 2020
In House Training (IHT) Membuat Modul Elektronik
Guru sebagai tonggak utama penggerak upaya mencerdaskan kehidupan bangsa dituntut untuk memiliki kemampuan mendorong siswa agar memiliki keterampilan berpikir komputasi, dan memiliki kemampuan untuk memanfaatkan alat teknologi yang berada di tangan mereka. Melalui Training ini kita mau mencoba salah satu dari banyak aplikasi pembelajaran yang berbasis teknologi, yang memberikan kemudahan dalam mentransfer ilmu kepada peserta didik.
Minggu, 05 Januari 2020
Erapor Online
Erapor di Rumah Sakit
Sebagian orang nyesek ketika pembagian rapor sudah mendekat. Nyesek harus bertemu dengan Mbah Erapor. Seruwet itukah erapor?
------------------------------------------------------------------------
Dihadapkan pada dua pilihan yang sama urgennya sungguh begitu berat. Keputusan bijak harus diambil dengan melihat sisi baik buruknya. Atau melihat tingkat paling mendesak diantara dua pilihan tersebut.
Seperti halnya yang telah melandaku.Aku terjebak dalam dua pilihan yang bagiku keduanya urgen. Satu pilihan menuntut kewajibanku sebagai seorang istri. Satu pilihan lagi meminta kewajibanku sebagai ASN.
Di waktu yang bersamaan aku harus menyelesaikan dua tugas. Mengantar suami ke rumah sakit dan mengisi Erapor.
"Bismillah..."
Melihat kondisi suamiku yang semakin lemah,kuabaikan Erapor yang mengusik pikirkanku. Kutanggalkan tanggungjawabku demi keselamatan suamiku. Aku batalkan berangkat ke sekolah untuk mengerjakan Erapor bersama teman-teman. Padahal pembagian rapor sisa dua hari.
Aku membawa suamiku ke rumah sakit. Setelah diperiksa, ternyata suamiku harus dirawat. Sudah pasti aku setuju demi kesembuhannya.
"Alhamdulillah...sudah ditangani dokter"
Aku legah. Kekhawatiranku akan kesehatan suami teratasi. Sudah dirawat. Infus telah terpasang. Setidaknya dokter sudah turun tangan. Dibanding hanya terbaring di rumah.
Walaupun begitu,sisi lain masih mengganggu. Tugasku sebagai ASN belum teratasi. Kadang aku berpikir untuk menitip penjagaan suamiku pada saudaraku,tapi tak tega.
Menjaganya tak jadi masalah. Hanya saja ketika suami harus buang hajat atau pas lagi drop, gimana. Pastinya istrilah yang harus ada.
Mertua tak mungkin karena sudah lumayan senja. Dia juga sudah sakit-sakitan. Saudara suamiku jauh. Dan mereka juga punya kesibukan. Jadi tak ada jalan untuk menitip penjagaan suami.
Satu malam sudah di rumah sakit. Itu berarti besok sudah pembagian rapor. Sementara nilaiku belum diapa-apain. Aku ingin minta tolong pada salah satu temanku tapi tak enak juga. Mereka pun sedang bergelut dengan erapor.
Akhirnya,aku menghubungi proktor handal sekolahku. Hasdin sinde. Yah...pak Hasdin adalah guru agama namun dia berkompeten dalam hal penggunaan TIK sehingga dialah yang menjadi kepala lab.komputer di sekolahku.
"Pak, gimana nih. Aku lagi jaga bapak di rumah sakit. Nilaiku?"
"Please...carikan solusi pak"
"Ok. Sebentar Bu,aku carikan solusi"
"Ok pak. Aku tunggu infonya"
Aku sedikit legah. Solusi erapor untukku dalam pencarian. Entah solusinya berupa apa. Satu yang pasti aku merasa sudah ada titik terang. Meski aku sedikit ragu dengan waktu yang tinggal satu malam.
"Apa mungkin bisa selesai dalam waktu semalam?" kataku.
Yang aku tahu selama ini pengisian erapor lumayan lama. Butuh waktu dua sampai tiga hari. Itupun harus ke sekolah. Aku belum pernah mendengar pengisian erapor khususnya di daerahku dilakukan secara online di rumah atau di lain tempat.
Kalau offline biasa kami lakukan. Tapi hasil offlinenya akan diselesaikan kembali di sekolah. Andai saja Erapor bisa dilakukan dimana saja,wah keren.
Tidak pake repot harus ke sekolah. Apalagi yang hanya guru mapel, pastinya nyaman. Nyantai-nyantai ngeteh or ngopi-ngopi di rumah, pengiriman nilai tuntas.
Di saat pikiranku melayang-layang,sang proktor Hasdin Sinde menelpon.
"Bagaimana pak,ada solusi?"
"Iya Bu, yang penting ibu mau bekerja keras."
"Haaaa... bekerja keras?"
Aku terperangah mendengar kata bekerja keras. Kebayang begitu sulitnya solusi yang ditawarkan.
"Maksudnya Bu,yang penting ibu mau begadang menginput nilai"
"Oooo... begitu? Begadang dimana dulu pak? Masalahnya aku tak bisa kemana-mana. Tak mungkin aku ke Warkop."
"Begadang disitulah. Di kamar ibu menjaga suami."
"Wow...bisakah? Jadi aku tak perlu ke sekolah mengisi?"
"Ya ialah Bu. Semoga berhasil. Karena setahu ku belum pernah ada yang seperti ini di daerah kita. Kayaknya baru ibu yang akan melakukannya"
"Masa? Bagus dong kalau berhasil. Bisa menjadi inspirasi buat teman-teman disini. Tidak perlu galau jika ada kesibukan lain. Eropar bisa dimana saja yang penting data-data lengkap."
"Iya Bu. Silahkan dicoba Bu. Semoga berhasil."
Aku memperbaiki posisi dudukku. Beban di pundak terasa ringan. Walau belum pernah aku melakukan Erapor secara online dengan jarak kurang lebih tiga puluh km dari server namun aku cukup happy. Setidaknya sudah ada jalan terang dalam ketidakpastian.
Jam sudah menunjukkan pukul lima sore. Dengan semangat membara, aku mulai bercengkrama dengan erapor. Aku mengikuti semua instruksi proktor Hasdin Sinde.
Alhasil, tepat pukul 24.00 penginputan nilai Erapor online kelar. Data-data terkirim tanpa hambatan. Walau tak dipungkiri di awal pengimputan sejumlah tanya dan ketegangan menghampiri.
Untungnya Sang proktor berbesar hati stanbay memberi solusi ketika ada kendala. Aku yang menginput nilai namun dia pun ikut begadang demi kelancaran penginputanku.
Salut buat proktor yang berjiwa besar seperti ini. Membuka kemudahan untuk teman-teman yang punya kendala seperti aku ini.
"Alhamdulillah"
Aku merasa sangat bersyukur. Dua kewajiban berjalan sesuai harapan. Tak ada yang terabaikan.
Sungguh luar biasa di era milenial ini. Era teknologi canggih. Era digital super waw. Yang tak mungkin bisa jadi mungkin. Erapor yang seyogyanya dilakukan di sekolah ternyata di rumah sakit pun bisa.
Ternyata bayangan ruwet hanya dalam angan. Realitanya enteng dan menyenangkan.
Salam literasi digital
#Menulis dan Menulis
#Menulis itu sedekah
#Jenius Writing
Langganan:
Komentar (Atom)
-
Dalam rangka untuk mewujudkan budaya positif di sekolah maka langkah awal yang harus dilakukan adalah bagaimana mensosialisasikan budaya p...
